Sawah Jepara Terus Tergerus Bangunan, Gapoktan Bangsri Desak Pemkab Perketat Perlindungan LSD

TRITIS.CO, JEPARA – Penyusutan lahan persawahan di Kabupaten Jepara kian meresahkan kalangan petani. Maraknya pembangunan bangunan di kawasan persawahan dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan pertanian dan ketahanan pangan daerah.

Kondisi tersebut mendorong Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Bangsri meminta Pemerintah Kabupaten Jepara memperketat pengawasan dan perizinan pembangunan di kawasan Lahan Sawah Dilindungi (LSD).

Pengurus Gapoktan Desa Bangsri, Ahmad Sumito, warga Desa Srikandang, mengungkapkan bahwa penyusutan lahan sawah terjadi dari tahun ke tahun. Salah satu kawasan yang menjadi perhatiannya adalah hamparan persawahan sepanjang Kali Watulumpang hingga Desa Wedelan.

“Setiap tahun lahan sawah di Kecamatan Bangsri semakin berkurang karena semakin maraknya bangunan yang berdiri di kawasan persawahan. Seperti persawahan sepanjang Kali Watulumpang sampai Desa Wedelan,” ungkap Sumito saat dihubungi Tritis.co melalui telepon, Jumat (9/10/2026).

Ia meminta Pemkab Jepara melalui dinas terkait tidak lengah dalam mengawasi pembangunan, terutama yang berpotensi melanggar ketentuan perlindungan lahan sawah.

“Jika Pemkab Jepara melakukan pembiaran terhadap pembangunan di kawasan LSD, masa depan pertanian di Jepara akan suram,” tegasnya.

Desakan tersebut sejalan dengan hasil pertemuan rutin Gapoktan Kecamatan Bangsri yang digelar di rumah Taswito, selaku Ketua Gapoktan Kecamatan Bangsri, di Desa Tengguli, Kamis (8/10/2026).

Dalam pertemuan itu, para petani menyoroti pentingnya menjaga keberadaan lahan persawahan agar tidak terus menyusut akibat alih fungsi lahan.

Petinggi Desa Papasan, Muhammad Idhan Kholid, yang turut menghadiri pertemuan tersebut, mengatakan bahwa perlindungan lahan pertanian harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Salah satu poin penting dari pertemuan ini adalah Gapoktan Bangsri meminta Bapak Bupati dan instansi terkait menjaga lahan sawah agar tidak terus berkurang. Tujuannya supaya masa depan pertanian dan ketahanan pangan bisa lebih baik,” tutur Idhan.

Keluhan serupa disampaikan Miftahul Ulum dari Kelompok Tani Sido Mukti, Desa Tengguli. Ia mengakui bahwa lahan persawahan di wilayahnya juga semakin berkurang seiring munculnya bangunan-bangunan baru.

“Betul sekali, di Tengguli lahan persawahan juga berkurang dengan adanya bangunan-bangunan baru. Kami berharap Pak Bupati memperhatikan persoalan ini. Jangan hanya jalan yang diprioritaskan, tetapi pertanian juga harus mendapat perhatian agar minat masyarakat terhadap sektor pertanian meningkat,” ujarnya.

Menurut para petani, keberlangsungan sektor pertanian tidak cukup hanya didukung pembangunan infrastruktur. Perlindungan lahan produktif, pendampingan petani, serta kepastian kebijakan pemerintah juga diperlukan agar sektor pertanian tetap memiliki masa depan.

Gapoktan Kecamatan Bangsri sendiri menggelar pertemuan rutin setiap Kamis Pon dengan lokasi bergiliran di rumah para anggota. Kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi sekaligus sarana bertukar informasi, menambah pengetahuan, dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi petani.

Idhan Kholid menilai pertemuan rutin tersebut memberikan manfaat besar bagi kelompok tani di wilayah Kecamatan Bangsri.

“Saya sangat mendukung pertemuan rutin ini karena bisa menjadi ajang silaturahmi antarkelompok tani se-Kecamatan Bangsri. Selain itu, menjadi media transformasi ilmu dan informasi dari pihak maupun dinas terkait, sekaligus ajang mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi para petani,” paparnya.

Pertemuan kali ini juga dihadiri perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bangsri, Pupuk Indonesia, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

Kehadiran sejumlah pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan membuka ruang penyelesaian atas berbagai persoalan yang dihadapi petani, mulai dari penyusutan lahan hingga kebutuhan pendampingan dan dukungan pertanian.

Sumito, Miftahul Ulum, dan Idhan Kholid berharap pemerintah daerah serta instansi terkait tidak berhenti pada penyampaian imbauan, tetapi menghadirkan pendampingan, arahan, pengawasan, dan solusi nyata.

Bagi para petani, menjaga lahan sawah bukan sekadar mempertahankan hamparan hijau di pedesaan. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya menjaga sumber penghidupan petani sekaligus menjamin keberlanjutan produksi pangan di Kabupaten Jepara. (Lutfillah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *