TRITIS.CO, KEPUK – Proyek revitalisasi TK TA Kepuk 02 menghadapi tantangan tak biasa. Bukan persoalan tenaga kerja maupun ketersediaan material, melainkan kondisi lahan yang cukup curam dan memiliki perbedaan elevasi.
Sekolah yang berdiri sejak 1989 itu mendapatkan alokasi dana revitalisasi sebesar Rp1.128.525.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan satu gedung administrasi, dua ruang kelas, sekaligus pengadaan perabotan.
Sekretaris proyek, Aris Ahmad Musyafa, mengatakan program revitalisasi tersebut sangat berarti bagi pihak sekolah. Sebab, selama ini kegiatan belajar mengajar masih menumpang di gedung lembaga pendidikan lain.
“Dana revitalisasi untuk sekolah kami sekitar Rp1,1 miliar. Digunakan untuk membangun satu gedung administrasi dan dua ruang kelas beserta perabotannya. Bantuan pemerintah ini sangat berarti karena saat ini kami belum memiliki gedung sendiri,” ujar Aris kepada awak media di lokasi proyek, Kamis (8/10/2026).
Menurut warga Kepuk tersebut, pembangunan gedung baru diharapkan dapat memberikan fasilitas yang lebih layak bagi peserta didik.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya program revitalisasi ini. Nantinya anak-anak bisa belajar di gedung sekolah sendiri, tidak lagi menumpang di gedung sekolah lain,” katanya.
Namun, pembangunan di lokasi tersebut bukan tanpa tantangan. Aris menyebut kondisi kontur tanah menjadi persoalan utama yang harus diatasi tim pelaksana.
“Kendala kami bukan pada tukang atau material, tetapi kondisi lahannya. Medannya cukup ekstrem,” ungkapnya sambil menunjukkan bagian lahan yang memiliki kemiringan cukup curam.
Kondisi tersebut membuat tim pelaksana harus menyusun strategi khusus agar pembangunan tetap berjalan efektif.
Mandor proyek, Sutrisno, mengatakan posisi bangunan yang berbeda elevasi membuat pihaknya harus memikirkan metode kerja yang tepat.
“Saya bersama pengurus dan penanggung jawab harus memutar otak untuk menyiasati medan yang curam ini. Satu bangunan berada di atas, sedangkan dua ruang lainnya berada di bawah,” jelasnya.
Meski menghadapi medan yang cukup berat, Sutrisno dan Aris memastikan pembangunan tetap diarahkan untuk memenuhi standar kualitas serta target waktu yang telah ditentukan.
Proyek tersebut ditargetkan selesai dalam 140 hari kalender.
“Kami yakin bisa selesai sesuai target. Semua tukang merupakan warga asli Kepuk dan sudah berpengalaman. Material yang digunakan juga sesuai spesifikasi sehingga proses pembangunan bisa berjalan lancar,” tegas Aris.
Sutrisno menambahkan, pihaknya juga telah menyiapkan strategi khusus untuk mempercepat pekerjaan, terutama pada bangunan yang berada di bagian bawah.
“Untuk memperlancar pembangunan gedung yang berada di bawah, kami menggunakan sistem talang untuk mengirim material. Jadi tidak harus bolak-balik naik turun. Kalau diperlukan, jumlah tukang juga akan kami tambah,” paparnya.
Antisipasi terhadap musim hujan juga menjadi perhatian. Menurut Sutrisno, pemasangan atap ditargetkan sudah dilakukan dalam waktu dekat.
“Minggu depan atap harus sudah terpasang untuk mengantisipasi musim hujan,” katanya.
Sementara itu, Aris menjelaskan proyek revitalisasi tersebut dilaksanakan dengan mekanisme swakelola sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
“Kami melaksanakan proyek ini secara swakelola karena memang demikian mekanisme yang ditetapkan oleh dinas terkait. Bagi kami, mekanisme ini lebih efektif dan tepat sasaran,” tuturnya.
Bagi para pekerja lokal, program revitalisasi tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi sekolah, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Sutrisno menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah karena program tersebut turut memberikan penghasilan bagi para tukang yang sebagian besar merupakan warga Kepuk.
“Saya dan para tukang dari Desa Kepuk mengucapkan terima kasih kepada pemerintah. Dengan adanya program ini, kami bisa mendapatkan pekerjaan dan menafkahi keluarga,” ujarnya.
Aris dan Sutrisno berharap program pembangunan maupun revitalisasi yang melibatkan tenaga kerja lokal terus dilanjutkan. Selain meningkatkan fasilitas pendidikan, program tersebut dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat di tingkat desa. (Lutfillah)
