TRITIS.CO, JEPARA – Prestasi di level internasional menjadi modal Fannie Alicha Elisaveta untuk memburu medali emas di Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jawa Tengah V 2026. Atlet para-bulu tangkis asal Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, itu datang dengan bekal medali perunggu Asian Youth Para Games 2025 di Dubai.
Kini, Fannie membidik prestasi yang lebih tinggi. Ia ingin mempersembahkan medali emas untuk Kabupaten Jepara dalam ajang Peparprov yang akan berlangsung di Kota Surakarta pada 22–26 November 2026.
“Targetnya emas,” tegas Fannie saat ditemui seusai seremoni pelepasan kontingen di Pendopo Kartini Jepara, Sabtu (10/10/2026) malam.
Target tersebut bukan sekadar ambisi. Fannie menjalani program pembinaan Jangka Panjang Atlet Potensial (PJPAP) National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Tengah di Solo. Latihan digelar enam hari dalam sepekan, mulai Senin hingga Sabtu.
Di tengah tuntutan latihan intensif, Fannie tetap berusaha menjaga pendidikannya. Ia memperoleh dispensasi sekolah hingga pukul 12.00 agar dapat membagi waktu antara belajar dan berlatih.
“Untuk sekolahnya itu tetap sekolah, cuma dikasih dispensasi sampai jam 12.00,” ujarnya.
Perjalanan Fannie menuju podium emas sekaligus menjadi gambaran perjuangan atlet paralimpik yang membutuhkan dukungan lebih dari sekadar fasilitas olahraga. Konsistensi latihan, pendampingan, dan aksesibilitas menjadi bagian penting yang menentukan keberlanjutan pembinaan atlet disabilitas.
Ketua NPCI Kabupaten Jepara, Asrori, menyebut Fannie sebagai salah satu atlet unggulan Jepara, khususnya di cabang olahraga para-bulu tangkis. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala mendasar yang dihadapi atlet paralimpik, yakni aksesibilitas dan kebutuhan pendampingan.
“Yang paling berat ya karena kita paralimpik itu di aksesibilitas. Karena atlet seperti tunanetra, tunagrahita itu kan tidak bisa berangkat sendiri,” kata Asrori.
Menurutnya, sejumlah atlet membutuhkan bantuan keluarga atau orang terdekat untuk mengantar mereka ke tempat latihan. Padahal, latihan rutin berlangsung pukul 14.00 hingga 16.00 sehingga dukungan pendamping menjadi faktor penting agar atlet bisa berlatih secara konsisten.
“Jadi harus ada orang terdekat yang mengantarkan untuk kontinu latihan,” imbuhnya.
Asrori juga menyoroti ketentuan Peparprov yang membatasi atlet unggulan hanya tampil pada satu nomor pertandingan. Menurutnya, aturan tersebut berpengaruh terhadap peluang atlet menyumbangkan medali tambahan bagi kontingen Jepara.
“Padahal kalau kita bisa lebih dua nomor atau tiga nomor, ya kita mungkin bisa lebih banyak,” tuturnya.
Pada Peparprov sebelumnya di Pati, kontingen Jepara menempati peringkat ke-11 dengan raihan empat medali emas. Tahun ini, NPCI Jepara menargetkan peningkatan prestasi dengan menembus sepuluh besar dan membawa pulang tujuh medali emas.
Sebanyak 16 atlet disiapkan untuk memperkuat kontingen paralimpik Jepara. Mereka akan berjuang dalam Peparprov Jateng V yang dipusatkan di Kota Surakarta.
Ketua Kontingen Ary Bachtiar menjelaskan, kontingen Peparprov Jepara berjumlah 26 orang, terdiri atas 16 atlet, lima pelatih, dan lima ofisial. Mereka akan mengikuti 16 nomor pertandingan.
Selain kontingen paralimpik, Jepara juga mempersiapkan atlet untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026. Kontingen Porprov Jepara berjumlah 367 orang, meliputi 262 atlet, 65 pelatih, dan 40 ofisial.
Mereka dijadwalkan bertanding pada 225 nomor dari 40 cabang olahraga. Porprov Jateng XVII berlangsung pada 25–31 Oktober 2026 di wilayah Semarang Raya, dengan tambahan lokasi pertandingan di Kabupaten Blora dan Kota Surakarta.
Ary mengatakan, target 50 medali emas pada Porprov ditetapkan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi tim KONI Jepara. Persiapan atlet telah dilakukan melalui Pusat Pelatihan Kabupaten selama tiga bulan dan pemusatan latihan atau training center selama 17 hari.
Ketua KONI Kabupaten Jepara, Miftah Arifin, menegaskan komitmen organisasinya untuk mengawal perjuangan para atlet. Ia optimistis persiapan yang telah dilakukan dapat menjadi bekal bagi kontingen Jepara untuk bersaing.
“Kami optimistis kontingen Jepara mampu bersaing dan berjuang meraih target 50 medali emas,” ujarnya.
Menurut Miftah, keberhasilan atlet tidak semata-mata diukur dari jumlah medali. Prestasi juga diharapkan menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Jepara melalui semangat juang dan sportivitas.
Dukungan terhadap perjuangan atlet turut disampaikan Bupati Jepara, Witiarso Utomo atau yang akrab disapa Mas Wiwit. Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Jepara menargetkan kontingen Porprov mampu menembus peringkat keempat Jawa Tengah.
Bupati juga menyampaikan rencana pemberian bonus bagi atlet peraih medali emas sesuai target kontingen. Besaran kenaikan bonus masih akan dihitung bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan dibahas dengan pimpinan DPRD.
“Kalau bisa tercapai, kita upayakan naik,” ujarnya.
Mas Wiwit meminta para ketua cabang olahraga turut mendampingi atlet selama persiapan hingga pertandingan. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi agar target medali emas yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Pemerintah Kabupaten Jepara, lanjutnya, akan terus memberikan dukungan terhadap perjuangan para atlet yang membawa nama daerah di ajang olahraga tingkat provinsi.
Dukungan tambahan datang dari Polres Jepara. Kapolres Jepara AKBP Keris Aji Wibisono menyatakan akan memberikan fasilitas pembuatan surat izin mengemudi (SIM) secara gratis bagi atlet yang meraih medali emas, perak, maupun perunggu pada Porprov.
Di tengah target besar kontingen Jepara, perjuangan Fannie menjadi salah satu kisah yang patut mendapat perhatian. Berbekal pengalaman meraih perunggu di panggung Asia, atlet muda asal Bawu itu kini membidik emas di tingkat provinsi.
Bagi Fannie, targetnya sudah jelas: naik ke podium tertinggi dan membawa pulang kebanggaan untuk Jepara. (Djj)
