118 Siswa dan Guru di Jepara Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Air dan Bahan Makanan Disorot

TRITIS.CO, JEPARA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jepara kembali menjadi sorotan. Sebanyak 118 siswa dan guru di Kecamatan Mlonggo dilaporkan mengalami gangguan pencernaan dan diare setelah mengonsumsi paket makanan MBG.

Paket makanan tersebut diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Mlonggo Sekuro 01 milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah Mlonggo.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jepara, Hadi Sarwoko, membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya, Dinkes Jepara telah menerima laporan terkait gangguan pencernaan yang dialami sejumlah penerima manfaat MBG.

Peristiwa bermula setelah para siswa mengonsumsi menu MBG pada Senin (7/9/2026). Sehari kemudian, Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 07.45 WIB, sejumlah siswa mulai mengeluhkan diare dan sakit perut yang dirasakan sejak malam sebelumnya.

Pihak SPPG kemudian melakukan pengecekan terhadap 11 sekolah penerima manfaat. Dari hasil pengecekan tersebut, ditemukan gangguan pencernaan secara massal di tiga sekolah.

Total terdapat 118 siswa dan guru yang mengalami gejala pencernaan dan diare.

Korban tersebut berasal dari SMK Nawakartika sebanyak 33 siswa dan 4 guru, MA Nawakartika sebanyak 13 siswa, serta SDN 1 Srobyong sebanyak 60 siswa dan 8 guru.

Sebelum mengalami keluhan, para korban diketahui mengonsumsi paket MBG dengan menu nasi putih, ayam bakar taliwang, sambal terasi, saus tomat saset, tahu goreng, serta lalapan timun dan kemangi.

Pada hari tersebut, sebanyak 1.650 paket makanan didistribusikan kepada penerima manfaat yang terdiri dari 1.374 siswa dan 276 guru maupun staf. Paket makanan untuk jenjang SD hingga SMA itu didistribusikan ke sekolah sekitar pukul 10.00 hingga 10.15 WIB.

Dinkes Jepara kemudian menerjunkan tim untuk melakukan pemeriksaan dan analisis terhadap dapur produksi SPPG Muhammadiyah Mlonggo.

Dari hasil evaluasi awal, proses produksi disebut telah memenuhi standar operasional prosedur (SOP). Namun, tim menemukan sejumlah catatan yang dinilai perlu mendapat perhatian, salah satunya tata letak gudang dengan jalur loading in dan loading out yang masih menyatu sehingga berpotensi menimbulkan kontaminasi silang.

Selain persoalan tata letak, kualitas air dan bahan makanan juga menjadi perhatian dalam penyelidikan awal.

Hadi Sarwoko menyebut dugaan sementara mengarah pada air yang digunakan serta kualitas bahan makanan. Air yang digunakan dalam proses produksi disebut menggunakan air keran, sementara pemeriksaan terhadap bahan makanan juga menemukan adanya telur yang dinilai tidak sesuai kualitas.

Namun demikian, penyebab pasti munculnya gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Sampel makanan telah dikirim ke laboratorium Dinkes Jepara untuk dilakukan pengujian lebih lanjut guna mengetahui faktor yang sebenarnya menyebabkan munculnya gejala pada para penerima MBG.

Beruntung, kondisi para korban sejauh ini dilaporkan berada dalam kategori ringan hingga sedang. Tidak terdapat siswa yang harus menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit.

Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena menyangkut keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG yang menyasar ribuan penerima manfaat di lingkungan sekolah.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat mengungkap apakah gangguan pencernaan tersebut benar berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, kualitas bahan baku, air yang digunakan, proses pengolahan, atau faktor lain yang terjadi sebelum makanan sampai ke tangan siswa. (Djj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *