TRITIS.CO, SEMARANG — Jawa Tengah menghadapi ancaman bencana yang tidak bisa ditangani dengan respons lambat. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh petugas, relawan, hingga Tim Reaksi Cepat (TRC) mempercepat respons setiap kali bencana terjadi.
Luthfi menyebut Jawa Tengah sebagai “minimarket bencana” karena hampir seluruh jenis bencana berpotensi terjadi di wilayah ini. Karena itu, kecepatan dan ketepatan penanganan menjadi kunci untuk menekan dampak yang ditimbulkan.
Pesan tersebut disampaikan Luthfi saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Kabupaten Semarang, Minggu (6/9/2026).
Pelatihan itu melibatkan ratusan personel yang merupakan perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Mereka diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan pribadi, tetapi juga menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada personel di daerah masing-masing.
“Jadi latihan itu perlu, untuk meningkatkan profesionalitas dan team work (kerja tim),” kata Luthfi.
Luthfi mengatakan, saat ini dua ancaman bencana yang perlu mendapat perhatian serius di Jawa Tengah adalah kekeringan dan kebakaran.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah per 30 Agustus 2026 mencatat sudah terjadi 615 kejadian kebakaran. Rinciannya, 282 kejadian merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sedangkan 333 lainnya merupakan kebakaran gedung dan permukiman.
Total kerusakan akibat berbagai kejadian kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp38,5 miliar.
Sementara ancaman kekeringan disebut hampir merata di berbagai wilayah Jawa Tengah. Dampaknya tidak hanya menyasar lahan pertanian, tetapi juga kebutuhan air bersih masyarakat.
Luthfi mengatakan pemerintah daerah telah melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Langkah tersebut dilakukan agar dampaknya dapat ditekan sedini mungkin.
“Hampir 8,5 juta liter air bersih juga sudah didistribusikan ke daerah terdampak kekeringan. Koordinasi dengan kepolisian dan TNI juga terus dilakukan untuk penanganan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Luthfi didampingi Kalakhar BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan.
Ancaman kebakaran juga menjadi perhatian, khususnya kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA). Luthfi mencontohkan kebakaran yang terjadi di TPA Putri Cempo, Kota Surakarta.
Karena itu, seluruh kepala daerah di Jawa Tengah diminta tidak menunggu bencana terjadi. Pemerintah daerah harus aktif melakukan pengecekan sekaligus mitigasi terhadap potensi bencana di wilayah masing-masing.
“Surat edaran sudah dibuat oleh Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah dan ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya. (DJJ)
