TRITIS.CO, JEPARA – Polemik budidaya rumput laut di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Jepara, kembali mencuat. Sejumlah petani sebelumnya mengeluhkan program budidaya rumput laut yang disebut mengalami kegagalan hingga menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah.
Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara membantah anggapan bahwa program budidaya rumput laut tersebut gagal total.
Camat Karimunjawa Nuril Abdillah mengatakan, pihaknya telah menerima pengaduan dari sejumlah petani terkait program budidaya rumput laut yang merupakan bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui PT Aquatec.
Dalam pengaduan tersebut, petani menyebut sekitar 3,75 ton bibit rumput laut rontok akibat pemasangan tali pada pola budidaya model baru. Mereka juga memperkirakan adanya potensi hasil panen yang hilang mencapai 92 ton.
Jika dihitung secara ekonomi, kerugian yang diklaim oleh 16 petani tersebut mencapai sekitar Rp309,4 juta.
Menindaklanjuti laporan itu, Nuril mengaku turun langsung menemui sejumlah petani yang namanya tercantum dalam pengaduan.
“Saya turun sendiri menemui nama-nama petani yang ada dalam surat tersebut,” ujar Nuril, Kamis (24/9/2026).
Dari sekitar 10 petani yang ditemuinya, pemerintah mendapatkan keterangan bahwa persoalan tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai kerugian petani.
Menurut Nuril, para petani telah mendapatkan pembayaran dalam proses persiapan dan penanaman. Untuk pemasangan model sepanjang 25 meter, petani mendapatkan bayaran Rp5 ribu, sedangkan biaya penanaman sebesar Rp10 ribu per 25 meter.
Pemerintah juga mengakui adanya bibit yang mengalami kerusakan. Namun, menurut Nuril, jumlah bibit yang rusak masih relatif kecil dibandingkan dengan total bantuan yang diterima petani.
Ia mencontohkan, terdapat petani yang melaporkan sekitar satu kuintal bibit rusak, sementara bantuan yang diterimanya mencapai 4 hingga 5 kuintal.
Disebut Masih Tahap Penyesuaian
Persoalan lain yang dikeluhkan petani adalah munculnya penyakit pada tanaman rumput laut.
Nuril mengatakan, penyakit tersebut tidak hanya terjadi pada pola budidaya baru. Pada pola penanaman sebelumnya, kondisi serupa juga pernah terjadi.
Menurut dia, munculnya penyakit berkaitan dengan kondisi musim sehingga tidak secara otomatis menunjukkan kegagalan program.
Pemerintah menilai budidaya rumput laut di Karimunjawa saat ini masih berada dalam tahap penyesuaian, khususnya dari pola budidaya lama menuju model baru dengan peralatan yang lebih lengkap.
Program tersebut pun dipastikan tetap dilanjutkan.
Enam kelompok tani rumput laut di Desa Kemujan disebut bersedia kembali melanjutkan kegiatan budidaya.
Bahkan, KKP kembali mengirimkan 2,9 ton bibit rumput laut dari Lampung ke Karimunjawa. Menurut Nuril, kondisi bibit tersebut baik dan telah diambil oleh para petani untuk kembali ditanam.
Sebelumnya, masing-masing kelompok tani juga telah mendapatkan sekitar 1,5 ton bibit rumput laut.
Targetnya Bukan Sekadar Tanam Rumput Laut
Nuril menjelaskan, program tersebut dirancang bukan sekadar memberikan bantuan bibit kepada petani. Pemerintah ingin membangun model budidaya rumput laut dari sektor hulu hingga hilir dalam satu lokasi.
Dengan konsep tersebut, Karimunjawa diharapkan dapat menjadi salah satu lokasi pengembangan budidaya rumput laut yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Harapannya para petani rumput laut di Karimunjawa bisa lebih sejahtera,” kata Nuril.
Di sisi lain, adanya laporan kerusakan bibit, potensi kehilangan hasil panen dan klaim kerugian dari sebagian petani menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pelaksanaan program, terutama pada metode budidaya baru dan kondisi lingkungan perairan.
Pemerintah dan petani kini dihadapkan pada tahap pembuktian di lapangan: apakah model baru tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang sesuai target dan benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani Karimunjawa. (Djj)
