TRITIS.CO, PATI – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, telah keluar.
Dari lima sampel makanan yang diperiksa, bakteri ditemukan pada menu nasi bakar dan tempe. Sementara tiga sampel lainnya tidak menunjukkan hasil positif bakteri.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menyampaikan bahwa pemeriksaan menemukan sejumlah jenis bakteri pada makanan yang disediakan SPPG Gembong 1.
Pada sampel nasi bakar ditemukan Escherichia coli (E. coli), Bacillus sp, dan Bacillus cereus. Sedangkan pada sampel tempe ditemukan Bacillus sp dan Bacillus cereus.
Lima sampel yang diperiksa terdiri dari nasi bakar, tempe, timun, semangka, dan kerupuk.
Sampel Korban Turut Diperiksa
Pemeriksaan laboratorium juga dilakukan terhadap sampel dari siswa yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG.
Dalam sampel muntahan ditemukan Bacillus sp dan Bacillus cereus. Pemeriksaan terhadap sampel korban menjadi bagian dari proses untuk mencocokkan temuan laboratorium dengan kondisi kesehatan para siswa.
Namun, temuan bakteri tersebut belum serta-merta menunjukkan satu jenis bakteri sebagai penyebab tunggal kejadian keracunan.
Diperlukan pencocokan antara hasil pemeriksaan makanan dan korban dengan kondisi sanitasi, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi makanan, serta sumber air yang digunakan oleh SPPG.
Temuan E. Coli Jadi Perhatian
Temuan E. coli pada nasi bakar menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam evaluasi keamanan pangan.
Keberadaan bakteri tersebut dapat berkaitan dengan kontaminasi, termasuk kemungkinan dari air maupun proses penanganan makanan. Karena itu, pemeriksaan terhadap sumber air, sanitasi lingkungan, kebersihan peralatan, serta perilaku penjamah makanan menjadi penting.
Sementara itu, temuan Bacillus cereus juga perlu dikaitkan dengan proses pengolahan dan penyimpanan makanan. Bakteri tersebut dapat berkembang pada kondisi tertentu apabila makanan tidak ditangani dan disimpan dengan baik.
Hasil uji laboratorium tersebut selanjutnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan pihak terkait untuk menelusuri sumber kontaminasi serta memastikan standar keamanan pangan di SPPG Gembong 1.
Kasus ini sekaligus menjadi perhatian terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait penerapan standar kebersihan, sanitasi, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat. (Djj)
