Olahan Bandeng Donorojo Didorong Naik Kelas, Enam Poklahsar Terima Bantuan Peralatan

TRITIS.CO, JEPARA — Potensi bandeng di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, mulai didorong naik kelas. Pemerintah Kabupaten Jepara tidak ingin hasil tambak hanya berhenti sebagai ikan segar, tetapi dikembangkan menjadi beragam produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Langkah tersebut mulai diwujudkan dengan penyaluran bantuan peralatan produksi kepada enam Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) di Kecamatan Donorojo. Bantuan diserahkan Camat Donorojo Ahmad Widiyanto di Pendopo Kecamatan Donorojo, Selasa (29/9/2026).

Menurut Ahmad, Donorojo memiliki potensi budidaya bandeng yang cukup besar. Namun, pengembangan usaha selama ini masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan peralatan produksi dan penyimpanan.

“Banyak dari mereka yang tidak bisa menyetok produk karena tidak memiliki peralatan yang cukup, seperti freezer. Untuk itu kami memberikan bantuan ini,” ujar Ahmad.

Setiap kelompok mendapatkan satu paket peralatan yang dapat digunakan untuk menunjang proses produksi. Bantuan tersebut antara lain berupa penggorengan, kompor, panci presto, freezer, hingga mesin penggiling daging.

Ketersediaan peralatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka lebih banyak pilihan produk berbahan dasar bandeng. Tidak hanya bandeng presto, tetapi juga otak-otak, nugget bandeng dan berbagai olahan lainnya.

Persoalan stok menjadi salah satu hal yang ingin diatasi melalui bantuan tersebut. Selama ini, sebagian pelaku usaha masih memproduksi berdasarkan pesanan karena keterbatasan fasilitas penyimpanan.

Dengan adanya freezer dan peralatan produksi yang lebih memadai, pelaku UMKM diharapkan dapat menyiapkan produk sebagai stok sehingga konsumen tidak harus menunggu proses produksi setiap kali melakukan pemesanan.

Hal itu juga dirasakan Heri, salah satu penerima bantuan. Ia berharap peralatan yang diberikan dapat membantu kelompoknya meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga ketersediaan produk.

“Terima kasih Bapak Bupati dan Pak Camat. Harapannya ini dapat membantu kami untuk berkembang. Karena untuk saat ini, ketika kami mendapat orderan paling tidak harus H-2. Jadi dengan adanya bantuan ini semoga setiap hari bisa ready stock,” ujarnya.

Upaya mendorong hilirisasi bandeng di Donorojo sebenarnya bukan agenda baru. Pemerintah Kabupaten Jepara sebelumnya telah menyampaikan komitmen untuk mengembangkan bandeng dari sektor budidaya menuju pengolahan.

Komitmen itu disampaikan Bupati Jepara Witiarso Utomo saat meninjau kawasan tambak Bandeng Kalingga di Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, pada 28 Oktober 2025. Saat itu, Bupati didampingi Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar, Kepala Dinas Perikanan Muh Tahsin dan sejumlah perangkat daerah.

Witiarso mendorong kelompok pembudidaya bandeng mengajukan proposal bantuan untuk pengembangan usaha. Pemerintah daerah, kata dia, akan mengupayakan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, salah satunya melalui Bank Jateng.

“Silakan masing-masing kelompok budidaya ikan bandeng untuk mengajukan proposal bantuan, untuk kami upayakan melalui CSR, salah satunya melalui Bank Jateng,” ujar Witiarso.

Menurut Witiarso, potensi bandeng Donorojo akan lebih besar jika tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar. Produk hasil tambak perlu masuk ke tahap pengolahan agar menghasilkan nilai tambah sekaligus membuka pasar yang lebih luas.

Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi bandeng presto, sambal bandeng dan berbagai produk olahan lainnya.

“Jadi kita lakukan penguatan produk bandeng. Selain budidaya, kita masuk ke hilirisasi seperti bandeng presto hingga sambel bandeng. Ini supaya nilai jualnya meningkat,” katanya.

Selain nilai tambah, karakteristik bandeng dari kawasan Ujungwatu juga dinilai dapat menjadi bagian dari identitas produk lokal Jepara. Kondisi tambak dengan sistem air mengalir disebut membuat bandeng memiliki cita rasa yang lebih segar dan tidak berbau lumpur.

“Kelebihan bandeng di sini karena air tambak mengalir, jadi ikannya tidak bau. Ini yang perlu kita tonjolkan sebagai keunggulan daerah,” ujar Witiarso.

Potensi produksi di tingkat desa pun cukup besar. Kepala Desa Ujungwatu Sungatono menyebut produksi bandeng di wilayahnya dapat mencapai sekitar satu ton per hari.

Hasil tambak tersebut bahkan telah dipasarkan ke luar daerah. Selain memenuhi kebutuhan pasar di Jepara, bandeng Ujungwatu juga dikirim ke sejumlah daerah, termasuk Semarang.

“Fokus kita sekarang masih di bandeng. Untuk garam, belum banyak petani yang mengarah ke sana. Bandeng kita juga sudah dijual ke berbagai daerah, termasuk ke Semarang,” kata Sungatono.

Untuk memperkuat pemasaran produk olahan, Kecamatan Donorojo juga menyiapkan Festival Olahan Bandeng yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Oktober 2026.

Festival tersebut akan terbuka untuk masyarakat umum dan menjadi ruang promosi bagi produk olahan bandeng hasil pelaku UMKM setempat. Ribuan olahan bandeng direncanakan disiapkan dalam kegiatan tersebut.

“Rencananya akan dilaksanakan tanggal 21 Oktober nanti. Terbuka untuk umum, dan kami siapkan ribuan olahan bandeng,” kata Ahmad.

Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bandeng Donorojo mulai diarahkan dari hulu ke hilir. Budidaya tetap menjadi fondasi, tetapi hasil tambak kemudian didorong masuk ke proses pengolahan, penyimpanan, pemasaran dan promosi.

Jika rantai tersebut berjalan konsisten, bandeng Donorojo tidak hanya menjadi komoditas tambak yang dijual dalam kondisi segar. Produk olahannya berpeluang menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat identitas produk perikanan lokal Jepara.

Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi memastikan produk olahan mampu menjaga kualitas, memiliki stok yang konsisten, memiliki kemasan dan pemasaran yang kuat, serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas. (Djj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *