TRITIS.CO, JEPARA — Kontroversi karnaval di Pekalongan dan fenomena sound horeg masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi agar kreativitas dalam seni pertunjukan tetap memperhatikan nilai budaya, etika, dan kearifan lokal.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Ardhie Kurniawan, meminta masyarakat menjadikan polemik tersebut sebagai momentum untuk lebih bijak dalam mengembangkan kreativitas, khususnya dalam kegiatan karnaval dan pertunjukan hiburan.
“Menurut saya, kejadian di Pekalongan harus menjadi bahan koreksi dan kewaspadaan kita bersama agar ke depan tidak kebablasan dalam berkreasi di acara karnaval dan sejenisnya,” ujar Ardhie saat kegiatan reses di Desa Sinanggul, Jepara, Minggu (20/9/2026).
Dalam kegiatan reses tersebut, tema yang diangkat adalah nguri-nguri kebudayaan dan tradisi serta pendidikan politik yang sehat.
Terkait pro dan kontra sound horeg, Ardhie memilih menyikapinya secara bijak. Menurutnya, keberadaan sound horeg juga memiliki penggemar di tengah masyarakat sehingga persoalan tersebut perlu disikapi dengan pendekatan yang tidak memperuncing perdebatan.
“Karena banyak juga masyarakat yang menyukai sound horeg, maka kita tidak bisa melarang. Harus kita sikapi dengan bijak agar tidak semakin meruncingkan perdebatan,” katanya.
Ardhie juga menekankan pentingnya mengenal dan melestarikan seni serta budaya warisan leluhur. Menurutnya, tradisi lokal dapat menjadi salah satu pijakan dalam menghadapi perkembangan tren baru dalam kesenian maupun gaya hidup.
“Seni tradisi dan budaya warisan leluhur kita mengedepankan keindahan, etika, serta kesantunan. Mari kita jaga hal ini agar tidak terhanyut oleh kreativitas yang kebablasan seperti yang terjadi di Pekalongan,” imbuhnya.
Komitmen tersebut tidak hanya disampaikan melalui pernyataan. Dalam kegiatan reses di Desa Sinanggul, acara dibuka dan ditutup dengan pertunjukan seni rebana. Sementara dalam kegiatan reses di Desa Bulungan, rangkaian acara juga diisi dengan pertunjukan reog yang dibawakan warga setempat.
Anggota DPRD Jepara M. Latifun, yang mendampingi Ardhie dalam rangkaian kegiatan reses tersebut, menilai langkah itu menunjukkan perhatian terhadap keberlangsungan seni dan budaya lokal.
“Inilah bukti nyata Mas Ardhie dan Partai Demokrat peduli dan hadir untuk ikut nguri-nguri budaya dan tradisi leluhur kita,” ungkap Latifun.
Tak berhenti pada kegiatan reses, Ardhie dan Latifun juga merespons usulan kader untuk menggelar lomba seni tradisional di Kabupaten Jepara.
“Saya sangat tertarik dan salut ada kader kami yang mengusulkan agar Demokrat menyelenggarakan lomba tongtek se-Kabupaten Jepara. Kami akan merealisasikan usulan tersebut pada peringatan Hari Pahlawan bulan November nanti,” tegas Ardhie.
Hal senada disampaikan Latifun saat menutup kegiatan reses di Desa Bulungan. Ia menyatakan komitmennya untuk ikut mendorong perkembangan seni tradisi, khususnya di tingkat desa.
“Ke depannya, kami akan hadir dan membersamai pertumbuhan seni tradisi di Bulungan khususnya dan di Jepara pada umumnya sebagai bentuk kepedulian terhadap seni dan budaya leluhur,” pungkasnya.
Penulis : Lutfillah
Editor : Jambrong
