Jepara Art Carnival 2026, Panggung Kreativitas Nusantara yang Mulai Dilirik dari Berbagai Daerah

JEPARA, TRITIS.CO — Jepara Art Carnival (JAC) 2026 kembali menghadirkan kemeriahan seni dan budaya pada Sabtu (15/8/2026) malam. Ribuan masyarakat memadati Jalan Pemuda Jepara untuk menyaksikan parade yang berlangsung mulai pukul 18.30 hingga sekitar 23.00 WIB.

Rangkaian acara diawali penampilan musik akustik penyanyi asal Jepara, dilanjutkan dengan lagu Indonesia Raya, Mars Jepara, doa bersama, serta sambutan Bupati Jepara Witiarso Utomo yang sekaligus membuka secara resmi JAC 2026.

Suasana semakin semarak ketika panggung menampilkan tari Dekranasda Jepara dan show art wear Magenta X OMG. Delapan model tampil mengenakan kostum kreatif yang langsung menarik perhatian ribuan penonton.

Sekitar pukul 20.15 WIB, parade utama dimulai. Sebanyak 61 peserta dari berbagai daerah ikut ambil bagian, mulai dari Jepara, Kudus, Semarang, Pati, Salatiga, hingga Jember dan Bondowoso.

Menariknya, kehadiran peserta dari luar daerah menunjukkan bahwa JAC mulai memiliki daya tarik di luar Jepara. Bahkan, sejumlah kontingen datang atas inisiatif sendiri karena tertarik dengan konsep dan perkembangan event tersebut.

“Kami jauh-jauh datang dari Bondowoso karena sangat respek dengan Jepara Art Carnival. Kami datang atas inisiatif sendiri, bukan karena diundang oleh panitia,” ungkap Adi, manajer tim kontingen Bondowoso, Jawa Timur.

Hal senada disampaikan Rizal, salah satu peserta dari Semarang. Menurutnya, JAC merupakan event besar yang layak mendapatkan dukungan.

“Ini adalah event besar yang sangat bagus sehingga kami tertarik untuk berpartisipasi dan mendukung secara nyata event ini,” ujarnya.

Beragam konsep budaya ditampilkan dalam parade tersebut. Peserta membawa tema yang mengangkat identitas Jepara maupun kekayaan budaya Nusantara, seperti Keris Tulak dari Desa Tulakan, The Queen of Jepara, Ratu Shima, Arjuna, Ratu Kalinyamat, hingga Jepara Kota Ukir.

Tidak hanya budaya Jepara, penonton juga disuguhi berbagai karakter dan kesenian daerah lain, mulai dari Reog, Roro Jonggrang, Prambanan, Dewi Sri, Ratu Pantai Selatan hingga Ogoh-ogoh Bali. Perpaduan tersebut membuat JAC menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi seni dan budaya dari sejumlah daerah.

Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya Jalan Pemuda sepanjang acara. Namun, tingginya jumlah penonton juga menghadirkan sejumlah persoalan di lapangan.

Sebagian penonton masuk ke area catwalk untuk berfoto bersama peserta. Kondisi tersebut beberapa kali membuat laju parade terhambat. Sejumlah peserta bahkan harus berhenti cukup lama untuk melayani permintaan foto, sementara kostum yang dikenakan relatif berat dan membutuhkan tenaga ekstra.

Semakin malam, kepadatan penonton semakin meningkat sehingga jarak antar peserta menjadi kurang ideal. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan berikutnya karena menyangkut kelancaran, kenyamanan, hingga keselamatan peserta dan penonton.

Selain itu, masih terlihat kendaraan yang melintas di sekitar area pertunjukan. Penerangan di sepanjang Jalan Pemuda juga dinilai belum sepenuhnya optimal untuk mendukung pertunjukan malam dengan kostum dan detail visual yang membutuhkan pencahayaan memadai.

Di sisi lain, JAC 2026 menunjukkan potensi besar sebagai bagian dari strategi promosi pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif Jepara. Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk memperkenalkan Jepara ke tingkat nasional maupun internasional.

“Ini adalah salah satu usaha kami untuk memperkenalkan Kabupaten Jepara kepada nasional maupun dunia,” ujarnya.

Menurut Witiarso, penyelenggaraan JAC juga diharapkan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya sektor pariwisata dan UMKM.

“Tujuannya tidak lain adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jepara,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Jepara bahkan berencana melakukan pengembangan pada penyelenggaraan berikutnya. Di antaranya dengan memperpanjang catwalk, menambah jumlah peserta, serta memperpanjang durasi pelaksanaan.

“Ke depan kita akan lebih panjangkan catwalk-nya, pesertanya kita tambah, dan durasinya kita perpanjang,” kata Witiarso.

JAC 2026 pada akhirnya tidak sekadar menjadi parade kostum. Event tersebut mulai berkembang menjadi ruang ekspresi seni, budaya, kreativitas, sekaligus pertemuan pelaku seni dari berbagai daerah.

Kehadiran kontingen dari luar Jepara menjadi sinyal bahwa JAC memiliki peluang untuk tumbuh menjadi agenda budaya dan pariwisata berskala nasional. Namun, seiring dengan semakin besarnya daya tarik acara, aspek tata kelola lapangan, pengamanan catwalk, rekayasa lalu lintas, pencahayaan, serta kenyamanan peserta dan penonton juga perlu mendapat perhatian lebih serius.

Jika pengembangan tersebut dapat dilakukan secara konsisten, Jepara Art Carnival berpeluang menjadi salah satu ikon pariwisata kreatif Jepara yang bukan hanya membanggakan masyarakat lokal, tetapi juga mampu menjadi magnet kreativitas dan budaya dari berbagai penjuru Nusantara.

Penulis : Ltf
Editor   : Djj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *